02 July 2009

Hiperkolesterolemia (Bagian 2)

Pada hiperkolesterolemia bagian 1 telah dibahas mengenai definisi hiperkolesterolemia, angka-angka kejadian hiperkolesterolemia (aspek epidemiologi), klasifikasi hiperkoletserolemia, penyebab hiperkolesterolemia dan patogenesis terjadinya aterosklerosis akibat hiperkolesterolemia. Selanjutnya pada bagian 2 ini akan dibahas cara mendiagnosis dan terapi hiperkolesterolemia.

Diagnosis Hiperkolestrolemia

Anamnesa meliputi karakteristik umum, kebiasaan diet, perilaku aktifitas fisik, merokok, peminum alcohol dan riwayat penyakit sebelumnya serta riwayat sakit pada keluarga. Pemeriksaan fisik yang akan dilakukan adalah antropometri, frekuensi denyut nadi, tekanan darah, auskultasi irama jantung, serta EKG. Pemeriksaan laboratorium darah yaitu kadar kolesterol total, kolesterol LDL, Trigliserida dan kolesterol HDL dalam plasma.

Tabel 1.Klasifikasi kadar lipid plasma (mg/dl)

Kolesterol total

< 200

Yang diinginkan

200-239

Batas tinggi

≥ 240

Tinggi

LDL

< 100

Optimal

100 – 129

Mendekati optimal

130 – 159

Batas tinggi

160 – 189

Tinggi

≥ 190

Sangat tinggi

HDL

< 40

Rendah

≥ 60

Tinggi

Trigliserida

< 150

Normal

150 – 199

Batas tinggi

200-499

Tinggi

≥500

Sangat tinggi

Terapi Hiperkolesterolemia

Menurut National Choleteroslemia Education Programme Adult Therapy Programme (NCEP ATP III) sasaran LDL disesuaikan dengan faktor risiko yang dimiliki seseorang yaitu (5):

1. Risiko tinggi

a. Riwayat penyakit jantung koroner (PJK)

b. Risiko yang disamakan dengan PJK

  • Diabetes Melitus, stroke, penyakit obstruksi arteri tepi, aneurisma aorta abdominalis
  • Faktor risiko multiple (> 2 faktor risiko dan mempunyai faktor risiko PJK dalam waktu 10 tahun menurun skor Framingham)

2. Risiko Multipel

≥ 2 faktor risiko dengan risiko PJK dalam kurun waktu 10 tahun < 20% (skor Framingham)

3. Risiko rendah (0;1 faktor risiko)

Dengan risiko PJK dalam kurun 10 tahun < 10 %

Terapi non farmakologis (perubahan gaya hidup) antara lain terapi nutrisi medis, aktivitas fisik, menghindari rokok, menurunkan berat badan, pembatasan asupan alkohol. Faktor risiko utama (selain kolesterol LDL) yang menetukan sasaran kolesterol LDL yang ingin dicapai :

- Kebiasaan merokok

- Hipertensi (≥140/90 mmHg atau sedang mendapat obat hipertensi

- Kolesterol HDL rendah (<40 mg/dL)

- Riwayat PJK dini yaitu ayah < 55 tahun dan ibu < 65 tahun

- Umur pria ≥ 45 tahun dan wanita ≥ 55 tahun

Tabel 2. Tiga kelompok risiko untuk menentukan sasaran kolesterol LDL

Kelompok risiko

Sasaran kolesterol LDL (mg/dL)

Risiko tinggi

< 100

Faktor risiko multiple (≥ 2 faktor risiko)

< 130

Risiko rendah (0-1 faktor risiko)

< 160

Terapi non farmakologi

Terapi nutrisi medis

Diet tinggi lemak merupakan salah satu penyebab hiperkolesterolemia. Makan makanan yang banyak mengandung trans fat dan saturated fat seperti margarine/mentega, es krim, minyak kelapa dan lemak hewan dapat meningkatkan kadar LDL dan menurunkan koleterol HDL. Maka harus dikurangi sebanyak 7% perhari. Saturated fat dapat digantikan dengan unsaturated fat yang relatif kurang meningkatkan kadar LDL. Unsaturated dibagi dua antara lain Multi Unsaturated Fatty Acid (MUFA) contohnya minyak zaitun, alpokat dan Poli Unsaturated Fatty Acid (PUFA) contoh ikan. Dengan perubahan pola makan, mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah sebesar 10-15% . Makan ikan yang banyak mengandung omega 3 dapat menurunkan kadar LDL. Begitu juga dengan mengkonsumsi protein kedelai. Diet tinggi serat yang larut dalam air seperti oat dan buah/sayuran 20-30 gram sehari dapat menurunkan 5-15% kadar kolesterol total dan LDL.

Tabel 3. Komposisi makanan untuk hiperkolesterolemia menurut Perkeni 2004

Makanan

Asupan yang dianjurkan

Total lemak

20-25% dari kalori total

Lemak jenuh

< 7 % dari kalori total

Lemak PUFA

Sampai 10% dari kalori total

Lemak MUFA

Sampai 10 % dari kalori tota

Karbohidrat

60% dari kalori total (terutama karbohidrat kompleks)

Serat

30 gr perhari

Protein

Sekitar 15% dari kalori total

Kolesterol

< 200 mg/hari

Untuk di Rumah Sakit Dr.Soetomo menggunakan Diet B (Tjokroprawiro) dengan komposisi karbohidrat 68%, lemak : kolesterol < 300 mg/hari, lemak jenuh dan trans 5%, PUFA 5%, MUFA 10%, protein 12%, serat 25-35 gr perhari.

Aktivitas fisik

Olahraga yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan berat badan. Olahraga disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan penderita. Penurunan 10 % berat badan berarti menurunkan 30% lingkar perut yang mana terdapat lemak sentral di sana. AHA merekomendasikan olahraga selama 30 menit dengan aktivitas sedang 3-4 kali dalam seminggu

Menghindari rokok

Merokok berhubungan dengan proses metabolis yang berefek pada lipoprotein termasuk didalamnya meningkatkan asam lemak bebas, glukosa dan VLDL serta menurunkan HDL. Berhenti merokok berhubungan dengan peningkatan rata-rata HDL 6-8 mg/dl.

Hipertensi

Kriteria hipertensi berdasarkan JNC-VII, yaitu TD sistolik ≥ 140 mmHg dan TD diastolik ≥ 90mmHg (As). Cara menangani hipertensi dengan perubahan pola hidup, meningkatkan aktivitas fisik, diet rendah garam, kurangi alcohol dan tingkatkan diet sayuran dan buah serta rendah lemak. Juga minum obat antihipertensi seperti ACE Inhibitor dan thiazid.

Terapi farmakologis

Berikut ini obat- obatan yang mampu menurunkan kadar kolesterol darah, terdapat beberapa golongan obat, antara lain statin, resin, niasin, ezetimibe dan asam lemak omega-3.

Tabel 4. Obat-obatan hipolipidemik

Obat

Kolesterol LDL

Koleterol HDL

Trigliserida

Statin

clip_image00220-55%

clip_image0045-15%

clip_image002[1]10-20%

Resin

clip_image002[2]15-30%

clip_image004[1]3-5%

-/clip_image004[2]

Fibrat

clip_image002[3]10-15%

clip_image004[3]10-20%

clip_image002[4]35-50%

niasin

clip_image002[5]10-25%

clip_image004[4]10-35%

clip_image002[6]25-50%

Ezetimibe

clip_image002[7]15-25%

clip_image004[5]3-5%

clip_image002[8]5-10%

Asam lemak Omega-3

clip_image004[6]5-10%

clip_image004[7]1-3%

clip_image002[9]20-30%

Tabel 5. Efek Obat hipolipidemik terhadap kadar lipid serum

Dislipidemia

Obat pilihan

hiperkolesterolemia

Statin/resin/kombinasi

Dislipidemia campuran

Statin/resin/kombinasi

Hipertrigliseridemia

fibrat

Isolated low HDL

fibrat

DAFTAR PUSTAKA

Bahri A. Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner. e-USU Repositor. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2004

Kasim R., Antono D, Alwi I, Saharman L, Makmun LH, Pangabean MM, dkk. Prosiding Simposium Holistic kardiovaskuler VII. Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Juli 2008, hal56, 117

Leiv O. A Comparative clinical trial on Intensive Lipid lowering with simvastatin 80mg and 40mg. 2nd edition on therapeutic journal in cardiovascular medicine. Journal Article at www.springerlink.com

WerdhaSari A. Abstrak Penelitian Kesehatan Seri 25. Research Report from JKPKBPPK / 2008-02-20 15:23:49. Puslitbang Bio Medis dan Farmasi 2008. Available at http://digilib.litbang.depkes.go.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpkbppk-gdl-res-2008-asriwerdha-2487&newlang=indonesian

Taylor RB, David AK, Fields SA, Phillips M, Scherger JE, Anisman DE, et al. Cardiovascular Handbook, Springer Science+Business Media, Inc, 2005 page 151, 152 157, 163,164

http://72.14.235.132/search?q=cache:zoFio6BSS7gJ:wap.korantempo.com/view_details.php%3Fidedisi%3D2525%26idcategory%3D22%26idkoran%3D99769%26y%3D2007%26m%3D4%26d%3D24+prevalensi+hiperkolesterol&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology, eleventh edition, Elsevier Inc. Philadelphia, Pennsylvania, 2006 page 850.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3224&Itemid=2

Fuster V, Rourke RA, Walsh RA, Poole-Wilson P, King III SB, Robert R, et al. Hurst’s The Heart,E-book, ed 12,the McGraw-Hill Companies, 2008 chapter 51, 52,81, 95, 114

Braunwald E, Zipes DP, Libby P. Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th edition. WB Saunders Company, 2007

Soekidjo Notoatmodjo; Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2002.

Tulisan yang Berhubungan