15 October 2009

Pengobatan Hipertensi dengan Mengubah Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup atau terapi non farmakologi merupakan terapi pilihan bagi pasien hipertensi sebelum mendapatkan terapi obat. Perubahan gaya hidup ini sangat berguna dalam mencegah dan mengobati penyakit hipertensi. Perubahan gaya hidup tersebut antara lain :
Penurunan berat badan
Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko penting terjadinya penyakit hipertensi. Penurunan berat badan yang dikombinasi dengan pembatasan asupan garam dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Oleh karena itu semua pasien hipertensi maupun mereka yang memiliki factor risiko hipertensi, disarankan menjaga berat badannya mendekati berat badan optimal atau ideal.
Penghentian/pembatasan konsumsi alcohol
Konsumsi alcohol dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Penurunan konsumsi alcohol dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Peningkatan konsumsi alcohol menimbulkan efek resistensi dari obat-obatan antihipertensi.

Pembatasan asupan garam
Terdapat hubungan antara asupan garam dengan peningkatan tekanan darah. Pembatasan konsumsi garam sebanyak 5 gram sehari dapat mencegah hipertensi , mempermudah pengendalian tekanan darah bagi pasien hipertensi dan mencegah kejadian penyakit kardiovaskular. Pengurangan asupan garam baik secara tunggal atau pun dikombinasi dengan penurunan berat badan dapat menurunkan jekadian hipertensi sampai 20%.
Diet sayur dan buah-buahan
Konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan serta produk susu yang rendah lemak, dapat menurunkan tekanan darah. Juga dianjurkan pengurangan konsumsi lemak, daging merah, minuman manis dan mengandung gula.
Aktivitas fisik
Aktivitas fisik yang kurang seperti kurang gerak banyak menonton TV dapat meningkatkan risiko menderita penyakit kardiovaskular. Aktivitas fisik olahraga seperti jalan cepat, berlari-lari kecil dan berenang, dapat menurunkan tekanan darah. Pada pasien hipertens disarankan untuk melakukan olahraga selama 30 menit setiap hari sesuai dengan kemampuannya atau atas anjuran dokter.
Penghentian Merokok
Penghentian merokok dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular seperti stroke dan infark miokard. Mengkonsumsi satu batang rokok dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah selama 15 menit. Rokok meningkatkan kadar katekolamin dalam plasma yang menstimulasi saraf simpatik hingga terjadi peningkatan denyut jantung.
Menghindari Stres
Stres dapat meningkatkan meningkatkan kerja saraf simpatik yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan darah. Penyalurann stres yang salah seperti banyak makan snack atau cemilan juga dapat meningkatkan berat badan.

08 October 2009

Pedoman Tata Laksana Penyakit Hipertensi

Dalam menangani penyakit hipertensi, banyak organisasi kesehatan di dunia membuat suatu pedoman dalam tata laksana hipertensi. Pada intinya pedoman-pedoman tersebut berisikan cara mengatasi penyakit hipertensi dengan perubahan gaya hidup atau terapi non farmakologi, obat yang digunakan dalam terapi farmaklogi dan target tekanan darah yang ingin dicapai serta penanganan pada penderita hipertensi dengan keadaan khusus. Berikut ini pedoman tata laksana hipertensi :
1. Pedoman WHO dan International Society of Hypertension Writing Group (ISWG) tahun 2003, berisikan :
  • Pasien hipertensi dengan tekanan darah sistole >= 140 mmhg dan diastole >= 90 mmhg diawali dengan terapi non farmakologi seperti penurunan berat badan bagi penderita yang obese/kegemukan, olahraga yang teratur, mengurangi konsumsi alkohol dan garam, tidak merokok dan mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah.
  • Terapi farmakologi : untuk penderita tanpa komplikasi pengobatan dimulai dengan diuretik tiazid dosis rendah dan untuk penderita dengan komplikasi menggunakan lebih dari satu macam obat hipertensi.


2. Joint National Committee (JNC) berisikan :

  • Perubahan gaya hidup dan terapi obat memberikan manfaat yang berarti bagi pasien hipertensi
  • Target tekanan darah < 140/90 bagi hipertensi tanpa komplikasi dan target tekanan darah < 130/80 bagi hipertensi dengan komplikasi
  • Diuretik tiazid merupakan obat pilihan pertama untuk mencegah komplikasi kardiovaskular.
  • Hipertensi dengan komplikasi pilihan pertama diuretik tiazid tapi juga bisa digunakan penghambat ACE (captopril,lisinopril,ramipril dll), ARB (valsartan, candesartan dll), beta bloker (bisoprolol) dan antagonis kalsium (nifedipin, amlodipin dll) bisa juga dipertimbangkan.
  • Pasien hipertensi dengan kondisi lain yang menyertai seperti gagal ginjal dan lain-lain, obat anti hipertensi disesuaikan dengan kondisinya.
  • Monitoring tekanan darah dilakukan 1 bulan sekali sampai target tercapai dilanjutkan setiap 2 bulan, 3 bulan atau 6 bulan. Semakin jauh dari percapaian target tekanan darah, semakin sering monitoring dilakukan.


3. British Hypertensive Society (BHS)

  • Terapi non farmakologi dilakukan pada pasien hipertensi dan mereka yang keluarganya ada riwayat hipertensi
  • Pengobatan dimulai pada tekanan darah sistole >=140 dan diastole >= 90
  • Target yang ingin dicapai setelah pengobatan, sistol =< 140 dan diastole =< 85
  • obat piliha pertama tiazid atau beta bloker bila tidak ada kontraindikasi.

4. National Heart Lung Blood Institute (NHLBI)

  • Modifikasi gaya hidup sebagai penanganan menyeluruh, dapat dikombinasi dengan terapi obat
  • Menerapkan pola makan DASH (Diet Approach to Stop Hypertension) untuk penderita hipertensi
  • Hipertensi tanpa komplikasi harus dimulai dengan diuretik atau beta bloker
  • Hipertensi dengan penyakit penyerta, pemilihan obat harus berdasarkan masing-masinghambat individu dan berubah dari mono terapi ke terapi kombinasi yang fleksibel

5. European Society of Hypertension (ESH)

  • Fokus diberikan pada paien individual dan risiko kardiovaskularnya.
  • Penderita hipertensi dapat menerima satu atau lebih macam obat selama tujuan terapi tercapai
  • Penatalaksanaan harus difokuskan pada pencapaian target pengobatan kardiovaskular dengan perubahan gaya hidup atau dengan terapi obat
  • Kombinasi obat yang digunakan untuk mencapai target tekanan darah harus ditetapkan secara individual pada masing-masing pasien
  • Penghambat ACE dan ARB tidak boleh digunakan pada kehamilan.

6. UK's NICE

  • Penghambat ACE sebagai lini pertama bagi penderita hipertensi usia < 55 tahun dan antagonis kalsium atau diuretika bagi penderita hipertensi > 55 tahun
  • ARB direkomedasikan jika penghambat ACE tidak dapat ditoleransi
  • Penggunakan beta bloker sebagai lini keempat.

7. PEDOMAN  HIPERTENSI (KONSENSUS PERHIMPUNAN HIPERTENSI INDONESIA)
Hasil konsensus Pedoman Penanganan Hipertensi di Indonesia tahun 2007 berisikan :

  • Penanganan hipertensi ditujukan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular (termasuk serebrovaskular) serta perkembangan penyakit ginjal dimulai dengan upaya peningkatan kesadaran masyarakat dan perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat.
  • Penegakan diagnosis hipertensi perlu dilakukan dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah <160/100 mmhg
  • Sebelum bertindak dalam penanganan hipertensi, perlu dipertimbangkan adanya risiko kardiovaskular, kerusakan organ target dan penyakit penyerta. Penanganan dengan obat dilakukan pada penderita dengan banyaknya faktor risiko 3 atau lebih  atau dengan adanya kerusakan organ target,diabetes, penyakit penyerta, di samping perubahan gaya hidup.
  • Penanganan dengan obat dilakukan bila upaya perubahan gaya hidup belum mencapai target tekanan darah (masih >= 140/90 atau >= 130/80 bagi penderita diabetes/ penyakit ginjal kronis).
  • Pemilihan obat didasarkan ada tidaknya indikasi khusus. Bila tidak ada indikasi khusus, obat tergantung pada derajat hipertensi (derajat 1 atau derajat 2 JNC7)


05 October 2009

Penyakit Hipertensi Merusak Organ

images (3) Banyak organ-organ yang rusak dikarenakan tekanan darah yang tinggi (hipertensi). Kerusakan organ-organ dapat dicegah dengan mengobati penyakit hipertensinya hingga mencapai batas normal. Organ-organ tersebut antara lain :
1. Otak
Hipertensi yang tidak ditangani dapat menyebabkan perdarahan mikro (perdarahan yang tidak tampak) dan lesi (kerusakan pada otak) Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan stroke dengan segala akibatnya seperti perburukan fungsi kognitif, sensorik, motorik (mati rasa dan lumpuh) dan sebagainya.Untuk mendeteksinya biasa digunakan CT scan atau MRI.

2. Mata
Hipertensi yang berat dapat menyebabkan perdarahan pada pembuluh darah di sekitar retina yang lama kelamaan dapat menyebabkan penyakit retinopati yang menyebabkan kebutaan. Untuk mengetahui adanya retinopati hipertensif harus dilakukan funduskopi pada penderita hipertensi.

3. Jantung
Hipertensi akan menyebabkan peningkatan tekanan pada ventrikel kiri jantung. Untuk mengkompensasi hal tersebut, jantung melakukan remodeling pembesaran otot jantung ventrikel kiri sehingga terjadilah hipertropi ventrikel kiri.Akan tetapi hal tersebut menyebabkan ruang di ventrikel kiri berkurang sehingga pada akhirnya mengurangi volume darah yang dipompakan jantung ke seluruh tubuh sehingga mengganggu sirkulasi. Untuk mendeteksi adanya hipertropi ventrikel kiri bisa digunakan elektrokardiografi atau yang lebih canggih lagi ekokardiografi.

4. Ginjal
Hipertensi yang lama/berat dapat menyebabkan kerusakan ginjal sehingga fungsi ginjal menurun.Fungsi ginjal yang menurun menyebabkan darah yang disaring menjadi berkurang sehingga jumlah urin (air seni) yang dihasilkan menurun dan zat-zat yang seharusnya dibuang seperti urea menumpuk dalam darah/plasma sehingga lama kelamaan dapat meracuni tubuh.Kerusakan ginjal juga menyebabkan peningkatan albumin dalam urin sehingga dapat menyebabkan kekurangan albumin (albuminemia) yang dapat menyebabkan keluarnya cairan dari pembuluh darah ke jaringan dengan segala manifestasinya seperti ascites (busung air), edema tungkai dan lain-lain. Untuk itu pada pasien hipertensi harus diperiksa fungsi ginjal (serum creatinin, creatinin clearence,protein urin)dan albumin.

5. Pembuluh darah
hipertensi menyebabkan pembuluh darah terutama arteri menjadi kaku dan menambah parah hipertensinya. Untuk mendeteksi adanya gangguan di pembuluh darah, dapat digunakan ultrasonografi/ carvis doppler dan Ankle Brachial Index (ABI)